Kenalan dulu lah ya
Ini adalah tulisan pertama saya setelah ratusan bahkan ribuan kali saya menulis lamaran pekerjaan selama 2 tahun terakhir ini, berharap sebuah perusahaan besar merekrut saya untuk dijadikan tangan kanan, lalu menikahi putri sulung sang direktur yang cantik jelita, dan kehidupan berjalan di atas standar golongan bawah setelah mertua saya mati karena harta warisannya jatuh ke tangan saya.
Sangat FTV sekali bukan?
Sayangnya, saya tidak akan membahas tentang betapa konyolnya alur cerita FTV, atau bahkan sulitnya mencari pekerjaan yang dianggap "mapan" oleh calon mertua di tahun 2022 ini, ditambah covid-19 nampaknya enggan meninggalkan tanah air tercinta, terlepas dari segala kontroversinya.
Perkenalkan,
Saya adalah seorang pria (apa standar seseorang dipanggil pria?) berusia 26 tahun. Saya merupakan eks mahasiswa agribisnis/pertanian yang menghabiskan masa studi selama 7 tahun di Universitas yang bercorak agama. Entahlah, apakah seorang petani memiliki kebutuhan untuk menjadi religius agar padi yang ia tanam tumbuh subur dan takwa? Persis seperti pertanyaan yang diajukan oleh salah satu teman yang (maaf) pikirannya terguncang pasca ia gagal lolos seleksi masuk salah satu instansi bergengsi,
"Yan, kalo gua nanem pohon jambu, terus gua pake kekuatan pikiran biar pohon itu tumbuh, bisa tumbuh kan ya pohon jambunya? gak usah disiram air yan. bisa kan ya?"
Mungkin anda berpikir bahwa pertanyaan tersebut adalah sebuah gurauan. TIDAK. Anda harus mengalami sebuah pengalaman spiritual lewat pertemanan dengan seseorang yang memiliki mental health issue (jaksel people can relate).
Alih-alih saya berdialektika dengan filsuf satu ini, saya lebih memilih untuk menjawab singkat dengan nada lantang dan satu tarikan nafas, "bisa!!!" lalu pergi begitu saja.
Oke, kita kembali ke kuliah 7 tahun.
Di titik ini, saya yakin di kepala anda muncul berbagai asumsi tentang kuliah 7 tahun, baik bernada mayor atau pun minor, seperti sibuk mengurus organisasi, bekerja, pacaran, dikerjai dosen, atau bahkan sebagai mahasiswa pertanian, apakah saya menghabiskan waktu 7 tahun untuk menunggu sebuah pohon jati tumbuh besar?
Satu yang pasti, lulus 7 tahun adalah sebuah faktisitas yang mau tidak mau, harus saya terima, karena dengan menerima 'apa adanya' kehidupan, artinya kita sudah memasuki fase awal sebagai manusia yang eksistensial.
Saat ini saya bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang fashion yang berlokasi di kota Sukabumi, Jawa Barat, setidakanya untuk 1 tahun terakhir ini.
"Mengapa seorang sarjana pertanian bekerja di bidang fashion? Apakah sehelai kain katun butuh disemprot pestisida agar terhindar dari hama?"
Jika anda ingin mendapatkan sebuah jawaban yang singkat, saya akan menjawab, "Mau gimana lagi?"
Namun, jika anda mengharapkan sebuah jawaban disertai penjelasan kompleks dengan mengaitkan berbagai faktor, maka akan saya bahas di tema yang lain.
Tapi jauh sebelum semua omong kosong ini, saya terlahir sebagai anak pertama dari persilangan 2 suku, Sunda dan Betawi. Saya terlahir di tengah mati dan tertangkapnya orang-orang karena narkoba. Ya, setidaknya itulah alasan mengapa orangtua saya memilih hijrah ke Sukabumi.
Lanjut besok ya, ngantuk
Komentar
Posting Komentar